Sabtu, 15 Februari 2014

TUGAS II FONOLOGI BAHASA INDONESIA FKIP UIR (POINT 1)

UNSUR SUPRASEGMENTAL

Jenis dan Peran Unsur Suprasegmental
     Kalimat yang kita ucapkan sesungguhnya berunsur segmental dan suprasegmental. Unsur Suprasegmental adalah unsur kalimat yang berupa kata-kata yang dapat dituliskan. Unsur Suprasegmental merupakan unsur yang mengiringi pengucapan kata-kata yang hanya bisa disuarakan, tetapi tidak bisa dituliska, seperti lafal, intonasi, dan jeda. Mengucapkan bunyi bahasa dengan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda yang tepat dapat memperjelas isi turunan. Sebaliknya ketidak laziman dalam pengucapan lafal, intonasi, dan jeda dapat mengganggu penyampaian informasi yang ada pada tuturan tersebut. 
  • 1. Reaksi kinetik, yaitu dengan mencatat lafal, intonasi dan jeda yang lazim dan tidak dirasa tidak lazim. Sampaikan pula reaksi verbal dengan memberikan tanggapa atau komentar, pendapat mengenai lafal, intonasi, dan jeda yang tidak lazim. Lafal

    2. Lafal adalah cara sekelompok orang dalam mengucapkan bunyi bahasa. Kita mengenal bunyi vokal dan bunyi konsonan.

    3. Vokal adalah bunyi bahasa yang arus udara keluar dari rongga mulut tidak mengalami rintangan. Kita juga mengenal bunyi diftong ( Vokal Rangkap ). Diftong ini merupakan dua huruf vokal yang melambangkan satu bunyi yang tidak dapat dipisahkan. Adapun bunyi diftong tersebut adalah ai, au, oi. Bunyi diucapkan satu hembusan nafas. Diftong ai bukan a dan i, menggulai (kambing) bukan menggulai (teh).

    Contoh :
  • harimau dilafalkan / harimaw /
  • besok dilafalkan / besO? / 


    4. Konsonan Selain bunyi vokal dan diftong kita juga mengenal bunyi konsonan. Kita juga mengenal bunyi frikatif yang bunyi yang dihasilkan apabila arus udara melewati saluran sempit sehingga mengeluarkan bunyi desis. Yang termasuk konsonan frikatif bersuara adalah /z/, sedangkan konsonan frikatif tak bersuara adalah / f /, / s /, / x / dan / h /.
    Dalam pengucapan bunyi-bunyi konsonan tertentu sebagian orang-orang sering mengalami kesulitan misalnya / f / dilafalkan / p /. Hal ini dipengaruhi oleh dialek dan idiolek. Dialek variasi bahasa menurut kelompok pemakainya, sedangkan idiolek adalah keseluruhan ciri seseorang dalam berbahasa.

    5. Tekanan Tekanan merupak keras lembutnya pengucapan. Pemberian penekanan digunakan untuk menunjukan bagian tertentu yang lebih ditekankan dalam sebuah kalimat dan biasanya pengucapannya dengan bagian yang lainnya.

    Contoh : Besok pagi kelas x ulangan bahasa Indonesia Besok pagi kelas x ulangan bahasa Indonesia Besok pagi kelas x ulangan bahasa Indonesia Besok pagi kelas x ulangan bahasa Indonesia ata-kata yang bercetak tebal merupakan kata yang mendapat tekanan dan menunjukan bagian yang perlu mendapat perhatian.

    6.Intonasi Intonasi adalah tinggi rendahnya nada dalam pengucapan sehingga membentuk lagu kalimat. Intonasi akan menunjukan kalimat tersebut sudah selesai atau masih jeda, menunjukan tuturan memberi tahu, bertabya, ataukah menyuruh. Intonasi yang tepat dalam pengucapan akan memperjelas maksud tuturan, tetapisebaliknya intonasi yang tidak tepat akan bisa menimbulkan penafsiran yang berbeda terhadap maksud tuturan. Jeda Jeda merupakan hentian sejenak dalam ujaran. Penggunaan jeda dalam tuturan sangat berpengaruh terhadap tersampaikannya maksud tuturan. Jeda biasanya digunakan untuk memisahkan frasa agar memberikan kejelasan maksud ujaran. 


Sumber : http://indriasaraswati.blogspot.com/2012/09/unsur-suprasegmental.html
read more “TUGAS II FONOLOGI BAHASA INDONESIA FKIP UIR (POINT 1)”

TUGAS I FONOLOGI BAHASA INDONESIA FKIP UIR

Sifat-sifat Bahasa

1. Bahasa itu adalah Sebuah Sistem
Sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. sistem terbentuk oleh sejumlah unsur yang satu dan yang lain berhubungan secara fungsional. Bahasa terdiri dari unsur-unsur yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu dan membentuk satu kesatuan.

Sebagai sebuah sistem,bahasa itu bersifat sistematis dan sistemis. Sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak. Sistemis artinya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri dari sub-subsistem atau sistem bawahan (dikenal dengan nama tataran linguistik). Tataran linguistik terdiri dari tataran fonologi, tataran morfologi, tataran sintaksis, tataran semantik, dan tataran leksikon. Secara hirarkial, bagan subsistem bahasa tersebut sebagai berikut.

2. Bahasa itu Berwujud Lambang
Lambang dengan berbagai seluk beluknya dikaji orang dalam bidang kajian ilmu semiotika, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia. Dalam semiotika dibedakan adanya beberapa tanda yaitu: tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (sympton), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon. Lambang bersifat arbitrer, artinya tidak ada hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya.

3. Bahasa itu berupa bunyi
Menurut Kridalaksana (1983), bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan dalam tekanan udara. Bunyi bahasa adalah bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Tetapi juga tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa.

4. Bahasa itu bersifat arbitrer
Kata arbitrer bisa diartikan ’sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka’. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Ferdinant de Saussure (1966: 67) dalam dikotominya membedakan apa yang dimaksud signifiant dan signifie. Signifiant (penanda) adalah lambang bunyi itu, sedangkan signifie (petanda) adalah konsep yang dikandung signifiant.

Bolinger (1975: 22) mengatakan: Seandainya ada hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya itu, maka seseorang yang tidak tahu bahasa tertentu akan dapat menebak makna sebuah kata apabila dia mendengar kata itu diucapkan. Kenyataannya, kita tidak bisa menebak makna sebuah kata dari bahasa apapun (termasuk bahasa sendiri) yang belum pernah kita dengar, karena bunyi kata tersebut tidak memberi ”saran” atau ”petunjuk” apapun untuk mengetahui maknanya.

5. Bahasa itu bermakna
Salah satu sifat hakiki dari bahasa adalah bahasa itu berwujud lambang. Sebagai lambang, bahasa melambangkan suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau suatu pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi itu. Maka, dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyi makna. Karena bahasa itu bermakna, maka segala ucapan yang tidak mempunyai makna dapat disebut bukan bahasa.
[kuda], [makan], [rumah], [adil], [tenang] : bermakna = bahasa
[dsljk], [ahgysa], [kjki], [ybewl] : tidak bermakna = bukan bahasa

6. Bahasa itu bersifat konvensional
Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Misalnya, binatang berkaki empat yang biasa dikendarai, dilambangkan dengan bunyi [kuda], maka anggota masyarakat bahasa Indonesia harus mematuhinya. Kalau tidak dipatuhinya dan digantikan dengan lambang lain, maka komunikasi akan terhambat.

7. Bahasa itu bersifat unik
Bahasa dikatakan bersifat unik, artinya setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, atau sistem-sistem lainnya.

8. Bahasa itu bersifat universal
Selain bersifat unik, bahasa juga bersifat universal. Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Misalnya, ciri universal bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan.

9. Bahasa itu bersifat produktif
Bahasa bersifat produktif, artinya meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu. Misalnya, kita ambil fonem dalam bahasa Indonesia, /a/, /i/, /k/, dan /t/. Dari empat fonem tersebut dapat kita hasilkan satuan-satuan bahasa:

  • /i/-/k/-/a/-/t/ 
  • /k/-/i/-/t/-/a/
  • /k/-/i/-/a/-/t/
  • /k/-/a/-/i/-/t/
10. Bahasa itu bervariasi
Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial dan latar belakang budaya yang tidak sama. Karena perbedaan tersebut maka bahasa yang digunakan menjadi bervariasi. Ada tiga istilah dalam variasi bahasa yaitu:

  1. Idiolek : Ragam bahasa yang bersifat perorangan. 
  2. Dialek : Variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu.
  3. Ragam : Variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tertentu. Misalnya, ragam baku dan ragam tidak baku.

11. Bahasa itu bersifat dinamis
Bahasa tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Karena keterikatan dan keterkaitan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat kegiatan manusia itu selalu berubah, maka bahasa menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap, menjadi dinamis. Perubahan itu dapat berupa pemunculan kata atau istilah baru, peralihan makna sebuah kata, dan perubahan-perubahan lainnya.

12. Bahasa itu manusiawi
Alat komunikasi manusia berbeda dengan binatang. Alat komunikasi binatang bersifat tetap, statis. Sedangkan alat komunikasi manusia, yaitu bahasa bersifat produktif dan dinamis. Maka, bahasa bersifat manusiawi, dalam arti bahasa itu hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.



read more “TUGAS I FONOLOGI BAHASA INDONESIA FKIP UIR”

Selasa, 24 Mei 2011

Minggu, 22 Mei 2011

Minggu, 10 April 2011

SMKN 7 PEKANBARU

SMK Negeri 7 Pekanbaru


SMK Negeri 7 Pekanbaru Sekolah Menengah Kejuruan Kelompok Teknologi dan Informasi yang berlokasi di Jl. Yos Sudarso Rumbai - Pekanbaru Telp. (0761) 54246, 54247 Fax. (0761) 54248.
SMK Negeri 7 Pekanbaru




   Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 7 Pekanbaru sebagai salah satu sekolah yang baru memulai kegiatan pembelajaran pada tahun pelajaran 2009/2010, sesuai dengan Surat Keputusan Bapak Wali Kota Pekanbaru No. 10496502.SK.114/2009 Tanggal 6 Mei 2009.

M O T O
"Bekerja Keras, Berfikir Cerdas, Beramal Ikhlas"

V I S I
“ Terwujudnya SMK Negeri 7 Pekanbaru sebagai lembaga pendidikan dan pelatihan dibidang Teknik Informasi dan Komunikasi yang menghasilkan tamatan tingkat menengah yang terampil, mandiri dan memiliki etos kerja yang tinggi serta mampu bersaing secara global“.

M I S I
Mewujudkan proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.
Meningkatkan Kompetensi Tenaga Edukatif dan Non Edukatif
MeningkatkanKualitas pendidikan dan ketrampilan yang mengacu kepada standar kopetensi kerja nasional dan internasional
Menyiapkan tamatan yang mampu beradaptasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Program Keahlian yang ada d SMKN 7 Pekanbaru:
1. Teknik Komputer dan Jaringan
2. Rekayasa Perangkat Lunak
3. Multimedia
4. Animasi
read more “SMKN 7 PEKANBARU”