Sabtu, 15 Februari 2014

TUGAS II FONOLOGI BAHASA INDONESIA FKIP UIR (POINT 1)

KLASIFIKASI BUNYI SEGMENTAL DAN DESKRIPSI BUNYI SEGMENTAL BAHASA INDONESIA
 
A. Definisi Bunyi Segmental
Menurut Masnur. 2008. Bunyi segmental ialah bunyi yang dihasilkan oleh pernafasan, alat ucap dan pita suara. Bunyi Segmental  ada empat macam
  1. Konsonan= bunyi yang terhambat oleh alat ucap
  2. Vokal = bunyi yang tidak terhambat oleh alat ucap
  3. Diftong= dua vokal yang dibaca satu bunyi, misalnya: /ai/ dalam sungai, /au/ dalam /kau/
  4. Kluster= dua konsonan yang dibaca satu bunyi.
Contoh Kluster/Konsonan Rangkap
ng:  yang
ny:  nyonya
kh:  khusus, khas, khitmad,
pr:  produksi, prakarya, proses
kr:  kredit, kreatif, kritis, krisis
sy:  syarat, syah, syukur
str:  struktur, strata, strategi
spr:  sprai
tr  :  tradisi, tragedi, tragis, trauma, transportasi.
  B. DASAR KLASIFIKASI BUNYI SEGMENTAL
Masnur. 2008. Klasifikasi bunyi segmental didasarkan berbagai macam keriteria, yaitu Ada tidaknya gangguan , Mekanisme udara, Arah udara, Pita suara, Lubang lewatan udara, Mekanisme artikulasi, Cara gangguan, Maju mundurnya lidah, Tinggi rendahnya lidah, Bentuk bibir.
1.     Ada Tidaknya Gangguan
Yang dimaksud “ gangguan ” adalah penyempitan atau penutupan yang dilakukan oleh alat-alat ucap atas arus udara dalam pembentukan bunyi. Dilihat dari ada tidaknya gangguan ketika bunyi diucapakan, bunyi di klompokkan menjadi dua, yaitu:
a.       Bunyi vokoid yaitu bunyi yang dihasilkan tanpa melibatkan penyempitan atau penutupan pada daerah artikulasi.
Contoh bunyi vokoid menurut Daniel Jones terdapat padada bunyi vocal:
·         Vocal (i)          * vocal (a)
·         Vocal (u)        * vocal (o)
·         Vocal (e)         * vocal (α)
b.      Bunyi kotoid yaitu bunyi yang dihasilkan dengan melibatkan penyempitan atau penutupan pada daerah artikulasi.
Contoh terdapat pada bunyi vocal (m), (n), dll
2.     Mekanisme Udara
Yang dimaksud mekanisme udara adalah dari mana datangnya udara yang menggrakkan pita suara sebagai sumber bunyi. Dilihat dari kriterianya bunyi-bunyi bahasa bisa dihasilkan dari tiga kemungkinan  mekanisme udara.
a.       Mekanisme udara pulmonis, yaitu udra yang dari paru-paru menuju keluar.
Contohnya terdapat pada hamper semua bunyi bahasa di dunia.
b.      Mekanisme udara laringal atau faringal, yaitu udara yang datang dari laring atau faring.
c.       Mekanisme udara oral, yaitu udara yang datang dari mulut.
3.     Arah Udara
Dilihat dari arah udara ketika bunyi dihasilkan, bunyi di klompokan menjadi dua, yaitu:
a.       Bunyi egresif, yaitu bunyi yang dihasilkan dari arah udara menuju keluar melalui rongga mulut atau rongga hidung.
b.      Bunyi ingresif, yaitu bunyi yang dihasilkan dari arah udara masuk kedalam paru-paru.
4.     Pita Suara
Dilihat dari bergetar tidaknya pita suara ketika bunyi dihasilkan bunyi dapat di klompokkan menjadi dua, yaitu:
a.       Bunyi mati atau bunyi tak bersuara, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan pita suara tidak melakukan gerakan membuka menutup shingga getarannya tidak signifikan.
Contoh : bunyi (k), (p), (t), (s).
b.      Bunyi hidup atau bunyi bersuara, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan pita suara melakukan gerakan membuka dan menutup secara cepat sehingga bergetar secara signifikan.
Contoh : bunyi (g), (b), (d), (z).
 
5.     Lubang Lewatan Udara
Dilihat dari lewatan udara ketika bunyi dihasilkan, bunyi diklompokkan menjadi tiga, yaitu:
a.       Bunyi oral, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan  cara udara keluar melalui rongga mulut, dengan menutupkan velik pada dinding faring.
Contoh: bunyi (k)
b.      Bunyi nasal, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara  udara keluar melalui rongga hidung , dengan menutup rongga mulut dan membuka velik lebar-lebar.
Contoh: bunyi (m)
c.       Bunyi sengau, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara udara keluar dari rongga mulut dan rongga hidung, dengan membuka velik sedikit.
Misalnya terdapat  pada bunyi “bindheng”(istilahjawa)
6.     Mekanisme Artikulasi
Yang dimaksud mekanisme artikulasi adalah alat ucap mana yang bekerja atau bergerak ketika menghasilkan bunyi bahasa. Berdasarkan keriteria ini, bunyi dikelompokan sebagai berikut:
a.       Bunyi bilabial, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan bibir (labium) bawah dan bibir (labium ) atas.
Misalnya: bunyi (p), (b), (m), dan (w)            
b.      Bunyi labio-dental, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan bibir (labium) bawah dengan gigi (dentum)atas.
Misalnya : bunyi (f), dan (v)
c.       Bunyi apiko dental,yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan lidah (apeks) dan gigi(dentum) atas.
Misalnya : bunyi (t) pada ( pintu) , (d) pada (dadi), dan (n) pada (minta)
d.      Bunyi apiko-alveolar, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan ujung lidah (apeks) dan gusi (alveolum) atas.
Misalnya : (t) pada (pantun), (d) pada (dudU?), dan (n) pada (nama)
e.       Bunyi lamino-palatal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan tengah lidah (lamina) dan langit-langit keras (palatum).
Misalnya : (c), (j), (ñ), (Š)
f.        Bunyi dorso-velar, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan pangkal lidah (dorsum) dan langit-langit lunak (velum).
Misalnya : (K), (g), (x), (η)
g.       Bunyi dorso-uvular, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan pangkal lidah (dorsum) dan anak tekak (uvula).
Misalnya: (q), dan (R).
h.      Bunyi laringal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan tenggorok (laring).
Misalnya: (h).
i.         Bunyi glotal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh keterlibatan lubang atau clah (glotis) pada pita suara.
Misalnya: (?) hamzah
7.     Cara Gangguaan
Dilihat dari cara gangguan arus udara oleh artikulator ketika bunyi diucapkan, bunyi dapat diklompokkan sebagai berikut.
a.       Bunyi stop (hambat), yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara ditutup rapat sehingga udara terhenti seketika, lalu dilepaskan kembali secara tiba-tiba. Tahap pertama (penutupan) disebut implosif(stop implosif), tahap kedua (pelepasan) disebut eksplosif (stop eksplosif).
Misalnya: (p) pada (atap’) disebut bunyi implosive, (p) pada (paku) disebut bunyi eksplosif.
Contoh bunyi stop lainnya: (b), (t), (d), (k), (g), (?).
b.      Bunyi kontinum(alir), kebalikan dari bunyi stop, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara tidak ditutup secara total sehingga arus udara tetap mengalir.berarti, selain bunyi-bunyi stop merupakan bunyi kontinum, seperti, bunyi afrikatif, frikatif, tril dan lateral.
c.       Bunyi afrikatif (panduan), yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara ditutup rapat, tetapi kemudian dilepaskan secara berangsur. Misalnya, (c), dan (j)
d.      Bunyi frikatif (geser), yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara dihambat sedemikian rupa sehingga udara tetap  dapat keluar. Misalnya, (f), (v), (s), (z), (Š), (x).
e.       Bunyi tril (getar), yaitu bunyi yang dihasilkan denagn cara arus udara ditutup dan dibuka berulang-ulang secara cepat. Misalnya, (r), dan (R)
f.        Bunyi lateral (sampingan), yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara ditutup sedemikian rupa sehingga udara masih bias keluar melalui salah satu atau kedua sisinya. Misalnya, (l) pada (lima).
g.       Bunyi nasal (hidung),yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara arus udara yang lewat rongga mulut ditutup rapat, tetapi arus udara dialirkan lewat rongga hidung. Mialnya, (m), (n), (ñ), (η).
8.     Tinggi-Rendahnya Lidah
Dilihat dari tinggi rendahnya lidah ketika bunyi diucapkan, bunyi dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu:
a.       Bunyi tinggi, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi lidah meniggi, mendekati langit-langit keras. Misalnya, (i) pada (kita), (u) pada (hantu).
b.      Bunyi agak tingggi, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi lidah meninggi, sehingga agak mendekati langit-langit keras. Misalnya, (e) pada lele, (o) pada (soto).
c.       Bunyi tengah, yaitu bunyi yang dihasilakan dengn cara posisi lidah di tengah. Misalnya,  (  )
d.      Bunyi agak rendah, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi lidah agak merendah, sehingga agak menjauhi langit-langit keras. Misalnya, (ε)pada kata (p ε p ε?), (ε) pada kata (ε l ε?), (О) pada (jOrO?), (O) pada (pOkO?).
e.       Bunyi rendah, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi lidah merendah, sehingga jauh dari langit-langit keras. Misalnya, (a)pada (bata), (a) pada (armada), (α) pada (allαh), (α) pada (rαhmat).
9.     Maju Mundurnya Lidah
Dilihat dari maju mundurnya lidah ketika bunyi diucapkan, bunyi dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
a.       Bunyi depan, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara bagian depan lidah dinaikkan. Misalnya, (i), (ī),(e), (ε), (a).
b.      Bunyi pusat, yaitu bunyi yang dihasillkan dengan cara lidah merata., tidak ada bagian lidah yang diinakkan. Misalnya, ( )
c.       Bunyi belakang, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara bagian belakang lidah dinaikkan. Misalnya, (u), (U), (o), (O), (α).
10.Bentuk Bibir
Dilihat dari bentuk bibir ketika bunyi diucapkan, bunyi dapat dikelompokkan menjadi dua, yiatu:
a.       Bunyi bulat, yaitu buunyi yang dihasilkan dengan cara posisi bibir berbentuk bulat. Misalnya, (u), (U), (o), (O), (α).
b.      Bunyi tidak bulat, yaitu bunyi yang dihasilkan dengan cara posisi bibir merata atau tidak bulat. Misalnya, (i), (ī),(e), (ε), (a).
  C. DESKRIPSI BUNYI SEGMENTAL  BAHAS INDONESIA
Masnur. 2008. Bunyi segmental, baik vokoid maupun kontoid, yang diucapkan oleh penutur bahasa Indonesia sangat variatif, apalagi setelah diterapkan dalam berbagai distribusi dan lingkungan. Tetapi, paling tidak jumlah dan variasi bunyi tersebut biasa di deskripsikan sebagai berikut.
1.     Bunyi Vokoid
Bunyi
Ciri-ciri
Contoh kata
(i)
Tinggi, depan, tak bulat
(bila) ’bila’
(ī)
Agak tinggi, tak bulat
(ad ī?) ‘adik’
(e)
Tengah, depan, tak bulat
(ide) ‘ide’
(ε)
Agak rendah, depan, tak bulat
(n ε n ε?) ‘nene?’
(a)
Rendah, depan, tak bulat
(cari) ‘cari’
(u)
Tinggi, belakang, tak bulat
(buku) ‘buku’
(U)
Agak tinggi, belakang, bulat
(batU?) ‘batuk’
(o)
Tengah, belakang, bulat
(toko) ‘toko’
(O)
Agak rendah, belakang, bulat
(tOkOh) ‘tokoh’
(α)
Rendah, belakang, bulat
(allαh) ‘allah’
(  )
Tengah, pusat, tak bulat
( mas) ‘emas’ 
2.     Bunyi kontoid
Bunyi
Ciri-ciri
Contoh kata
(p)
Mati, oral, bilabial, plosif
(paku) ‘paku’ 
(b)
Hidup, oral, bilabial, plosif
(baru) baru‘
(t)
Mati, oral, apiko-dental, plosif 
(tidUr) ‘tidur’
(d)
Hidup, oral, apiko-dental, plosif
(dari) ‘dari’
(k)
Mati, oral, velar, plosive
(kaku) ‘kaku’
(g)
Hidup, oral, velar, plosif
(gali) ‘gali’
(?)
Mati, oral, glottal, plosif
(jara?) ‘jara?’
(c)
Mati, oral, lamino-palatal, aprikatif
(ciri) ‘ciri’ 
(j)
Hidup, oral, lamino-palatal, aprikatif
(jara?) ‘jara?’
(f)
Mati, oral, labio-dental, prikatif
(final) ‘final’ 
(s)
Mati, oral, apiko-alveolar, frikatif
(satu) ‘satu’
(z)
Hidup, oral, apiko-alveolar, frikatif
(zaman) ‘zaman’ 
(Š)
Mati, lamino-valatal, frikatif
(Šarat) ‘syarat’
(x)
Mati, oral, frikatif
(xas) ‘khas’ 
(  )
Hidup, oral, velar, frikatif
(tabli  ) ‘tabligh’
(h)
Mati, oral, laringal, frikatif
(tahan) ‘tahan’ 
(l)
Hidup, oral, apiko-alveolar, tril
(lama) ‘lama’
(m)
Hidup, nasal, bilabial
(makan) ‘makan’ 
(n)
Hidup, nasal, apiko-dental
(minta) ‘minta’
(n)
Hidup, nasal, apiko-alpeolar
(tanam) ‘tanam’ 
(ñ)
Hidup, nasal, lamino-palatal
(ñala) ‘nyala’
(η)
Hidup, nasal, velar
(ηilu) ‘ngilu’
(w)
Mati, oral, bilabial
(waktu) ‘waktu’
(y)
Mati, oral, lamino-palatal
(yatim) ‘yatim’ 


Sumber : http://rahmanattamimi.blogspot.com/2012/06/makalah-fonologi.html
read more “TUGAS II FONOLOGI BAHASA INDONESIA FKIP UIR (POINT 1)”

TUGAS II FONOLOGI BAHASA INDONESIA FKIP UIR (POINT 1)

UNSUR SUPRASEGMENTAL

Jenis dan Peran Unsur Suprasegmental
     Kalimat yang kita ucapkan sesungguhnya berunsur segmental dan suprasegmental. Unsur Suprasegmental adalah unsur kalimat yang berupa kata-kata yang dapat dituliskan. Unsur Suprasegmental merupakan unsur yang mengiringi pengucapan kata-kata yang hanya bisa disuarakan, tetapi tidak bisa dituliska, seperti lafal, intonasi, dan jeda. Mengucapkan bunyi bahasa dengan lafal, tekanan, intonasi, dan jeda yang tepat dapat memperjelas isi turunan. Sebaliknya ketidak laziman dalam pengucapan lafal, intonasi, dan jeda dapat mengganggu penyampaian informasi yang ada pada tuturan tersebut. 
  • 1. Reaksi kinetik, yaitu dengan mencatat lafal, intonasi dan jeda yang lazim dan tidak dirasa tidak lazim. Sampaikan pula reaksi verbal dengan memberikan tanggapa atau komentar, pendapat mengenai lafal, intonasi, dan jeda yang tidak lazim. Lafal

    2. Lafal adalah cara sekelompok orang dalam mengucapkan bunyi bahasa. Kita mengenal bunyi vokal dan bunyi konsonan.

    3. Vokal adalah bunyi bahasa yang arus udara keluar dari rongga mulut tidak mengalami rintangan. Kita juga mengenal bunyi diftong ( Vokal Rangkap ). Diftong ini merupakan dua huruf vokal yang melambangkan satu bunyi yang tidak dapat dipisahkan. Adapun bunyi diftong tersebut adalah ai, au, oi. Bunyi diucapkan satu hembusan nafas. Diftong ai bukan a dan i, menggulai (kambing) bukan menggulai (teh).

    Contoh :
  • harimau dilafalkan / harimaw /
  • besok dilafalkan / besO? / 


    4. Konsonan Selain bunyi vokal dan diftong kita juga mengenal bunyi konsonan. Kita juga mengenal bunyi frikatif yang bunyi yang dihasilkan apabila arus udara melewati saluran sempit sehingga mengeluarkan bunyi desis. Yang termasuk konsonan frikatif bersuara adalah /z/, sedangkan konsonan frikatif tak bersuara adalah / f /, / s /, / x / dan / h /.
    Dalam pengucapan bunyi-bunyi konsonan tertentu sebagian orang-orang sering mengalami kesulitan misalnya / f / dilafalkan / p /. Hal ini dipengaruhi oleh dialek dan idiolek. Dialek variasi bahasa menurut kelompok pemakainya, sedangkan idiolek adalah keseluruhan ciri seseorang dalam berbahasa.

    5. Tekanan Tekanan merupak keras lembutnya pengucapan. Pemberian penekanan digunakan untuk menunjukan bagian tertentu yang lebih ditekankan dalam sebuah kalimat dan biasanya pengucapannya dengan bagian yang lainnya.

    Contoh : Besok pagi kelas x ulangan bahasa Indonesia Besok pagi kelas x ulangan bahasa Indonesia Besok pagi kelas x ulangan bahasa Indonesia Besok pagi kelas x ulangan bahasa Indonesia ata-kata yang bercetak tebal merupakan kata yang mendapat tekanan dan menunjukan bagian yang perlu mendapat perhatian.

    6.Intonasi Intonasi adalah tinggi rendahnya nada dalam pengucapan sehingga membentuk lagu kalimat. Intonasi akan menunjukan kalimat tersebut sudah selesai atau masih jeda, menunjukan tuturan memberi tahu, bertabya, ataukah menyuruh. Intonasi yang tepat dalam pengucapan akan memperjelas maksud tuturan, tetapisebaliknya intonasi yang tidak tepat akan bisa menimbulkan penafsiran yang berbeda terhadap maksud tuturan. Jeda Jeda merupakan hentian sejenak dalam ujaran. Penggunaan jeda dalam tuturan sangat berpengaruh terhadap tersampaikannya maksud tuturan. Jeda biasanya digunakan untuk memisahkan frasa agar memberikan kejelasan maksud ujaran. 


Sumber : http://indriasaraswati.blogspot.com/2012/09/unsur-suprasegmental.html
read more “TUGAS II FONOLOGI BAHASA INDONESIA FKIP UIR (POINT 1)”

TUGAS I FONOLOGI BAHASA INDONESIA FKIP UIR

Sifat-sifat Bahasa

1. Bahasa itu adalah Sebuah Sistem
Sistem berarti susunan teratur berpola yang membentuk suatu keseluruhan yang bermakna atau berfungsi. sistem terbentuk oleh sejumlah unsur yang satu dan yang lain berhubungan secara fungsional. Bahasa terdiri dari unsur-unsur yang secara teratur tersusun menurut pola tertentu dan membentuk satu kesatuan.

Sebagai sebuah sistem,bahasa itu bersifat sistematis dan sistemis. Sistematis artinya bahasa itu tersusun menurut suatu pola, tidak tersusun secara acak. Sistemis artinya bahasa itu bukan merupakan sistem tunggal, tetapi terdiri dari sub-subsistem atau sistem bawahan (dikenal dengan nama tataran linguistik). Tataran linguistik terdiri dari tataran fonologi, tataran morfologi, tataran sintaksis, tataran semantik, dan tataran leksikon. Secara hirarkial, bagan subsistem bahasa tersebut sebagai berikut.

2. Bahasa itu Berwujud Lambang
Lambang dengan berbagai seluk beluknya dikaji orang dalam bidang kajian ilmu semiotika, yaitu ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada dalam kehidupan manusia. Dalam semiotika dibedakan adanya beberapa tanda yaitu: tanda (sign), lambang (simbol), sinyal (signal), gejala (sympton), gerak isyarat (gesture), kode, indeks, dan ikon. Lambang bersifat arbitrer, artinya tidak ada hubungan langsung yang bersifat wajib antara lambang dengan yang dilambangkannya.

3. Bahasa itu berupa bunyi
Menurut Kridalaksana (1983), bunyi adalah kesan pada pusat saraf sebagai akibat dari getaran gendang telinga yang bereaksi karena perubahan dalam tekanan udara. Bunyi bahasa adalah bunyi yang dihasilkan alat ucap manusia. Tetapi juga tidak semua bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia termasuk bunyi bahasa.

4. Bahasa itu bersifat arbitrer
Kata arbitrer bisa diartikan ’sewenang-wenang, berubah-ubah, tidak tetap, mana suka’. Yang dimaksud dengan istilah arbitrer itu adalah tidak adanya hubungan wajib antara lambang bahasa (yang berwujud bunyi itu) dengan konsep atau pengertian yang dimaksud oleh lambang tersebut. Ferdinant de Saussure (1966: 67) dalam dikotominya membedakan apa yang dimaksud signifiant dan signifie. Signifiant (penanda) adalah lambang bunyi itu, sedangkan signifie (petanda) adalah konsep yang dikandung signifiant.

Bolinger (1975: 22) mengatakan: Seandainya ada hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya itu, maka seseorang yang tidak tahu bahasa tertentu akan dapat menebak makna sebuah kata apabila dia mendengar kata itu diucapkan. Kenyataannya, kita tidak bisa menebak makna sebuah kata dari bahasa apapun (termasuk bahasa sendiri) yang belum pernah kita dengar, karena bunyi kata tersebut tidak memberi ”saran” atau ”petunjuk” apapun untuk mengetahui maknanya.

5. Bahasa itu bermakna
Salah satu sifat hakiki dari bahasa adalah bahasa itu berwujud lambang. Sebagai lambang, bahasa melambangkan suatu pengertian, suatu konsep, suatu ide, atau suatu pikiran yang ingin disampaikan dalam wujud bunyi itu. Maka, dapat dikatakan bahwa bahasa itu mempunyi makna. Karena bahasa itu bermakna, maka segala ucapan yang tidak mempunyai makna dapat disebut bukan bahasa.
[kuda], [makan], [rumah], [adil], [tenang] : bermakna = bahasa
[dsljk], [ahgysa], [kjki], [ybewl] : tidak bermakna = bukan bahasa

6. Bahasa itu bersifat konvensional
Meskipun hubungan antara lambang bunyi dengan yang dilambangkannya bersifat arbitrer, tetapi penggunaan lambang tersebut untuk suatu konsep tertentu bersifat konvensional. Artinya, semua anggota masyarakat bahasa itu mematuhi konvensi bahwa lambang tertentu itu digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya. Misalnya, binatang berkaki empat yang biasa dikendarai, dilambangkan dengan bunyi [kuda], maka anggota masyarakat bahasa Indonesia harus mematuhinya. Kalau tidak dipatuhinya dan digantikan dengan lambang lain, maka komunikasi akan terhambat.

7. Bahasa itu bersifat unik
Bahasa dikatakan bersifat unik, artinya setiap bahasa mempunyai ciri khas sendiri yang tidak dimiliki oleh bahasa lainnya. Ciri khas ini bisa menyangkut sistem bunyi, sistem pembentukan kata, sistem pembentukan kalimat, atau sistem-sistem lainnya.

8. Bahasa itu bersifat universal
Selain bersifat unik, bahasa juga bersifat universal. Artinya, ada ciri-ciri yang sama yang dimiliki oleh setiap bahasa yang ada di dunia ini. Misalnya, ciri universal bahasa yang paling umum adalah bahwa bahasa itu mempunyai bunyi bahasa yang terdiri dari vokal dan konsonan.

9. Bahasa itu bersifat produktif
Bahasa bersifat produktif, artinya meskipun unsur-unsur bahasa itu terbatas, tetapi dengan unsur-unsur yang jumlahnya terbatas itu dapat dibuat satuan-satuan bahasa yang tidak terbatas, meski secara relatif, sesuai dengan sistem yang berlaku dalam bahasa itu. Misalnya, kita ambil fonem dalam bahasa Indonesia, /a/, /i/, /k/, dan /t/. Dari empat fonem tersebut dapat kita hasilkan satuan-satuan bahasa:

  • /i/-/k/-/a/-/t/ 
  • /k/-/i/-/t/-/a/
  • /k/-/i/-/a/-/t/
  • /k/-/a/-/i/-/t/
10. Bahasa itu bervariasi
Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan berbagai status sosial dan latar belakang budaya yang tidak sama. Karena perbedaan tersebut maka bahasa yang digunakan menjadi bervariasi. Ada tiga istilah dalam variasi bahasa yaitu:

  1. Idiolek : Ragam bahasa yang bersifat perorangan. 
  2. Dialek : Variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat pada suatu tempat atau suatu waktu.
  3. Ragam : Variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tertentu. Misalnya, ragam baku dan ragam tidak baku.

11. Bahasa itu bersifat dinamis
Bahasa tidak pernah lepas dari segala kegiatan dan gerak manusia sepanjang keberadaan manusia itu sebagai makhluk yang berbudaya dan bermasyarakat. Karena keterikatan dan keterkaitan bahasa itu dengan manusia, sedangkan dalam kehidupannya di dalam masyarakat kegiatan manusia itu selalu berubah, maka bahasa menjadi ikut berubah, menjadi tidak tetap, menjadi dinamis. Perubahan itu dapat berupa pemunculan kata atau istilah baru, peralihan makna sebuah kata, dan perubahan-perubahan lainnya.

12. Bahasa itu manusiawi
Alat komunikasi manusia berbeda dengan binatang. Alat komunikasi binatang bersifat tetap, statis. Sedangkan alat komunikasi manusia, yaitu bahasa bersifat produktif dan dinamis. Maka, bahasa bersifat manusiawi, dalam arti bahasa itu hanya milik manusia dan hanya dapat digunakan oleh manusia.



read more “TUGAS I FONOLOGI BAHASA INDONESIA FKIP UIR”

Selasa, 24 Mei 2011

Minggu, 22 Mei 2011