Rabu, 20 Mei 2015
Jumat, 05 Desember 2014
TUGAS 1 MORFOLOGI BAHASA INDONESIA (SEMESTER III)
Mencari contoh
jenis-jenis morfofonemik dalam surat
kabar atau novel.
Sumber: Novel “Sweet Seventeen”
Karya :Trivana Desyara
Karya :Trivana Desyara
No
|
Bentuk-bentuk Morfofonemik
|
Contohnya
|
1.
|
Penambahan
fonem
|
Ber+
pakai+an →Berpakaian
Me-+
punya +i →Mempunyai
Me-+
sayang + i→Menyayangi
Me-+
tinggal+kan →Meninggalkan
Me-+
angguk →Menggangguk
Ber-+cucur+an
→Bercucuran
Me-+
dengar →Mendengar
Per-+nyata
+an →Pernyataan
Me-+
cari→Mencari
Me-+temu+i→Menemui
Me-+kuasa+i→Menguasai
Me-+beranikan
+kan→Memberanikan
Me-+
bawa +kan→Membawakan |
Jumat, 02 Mei 2014
TUGAS IV FONOLOGI BAHASA INDONESIA FKIP UIR
Contoh kasus yang berhubungan dengan ketidaklancaran dalam berujar yang terkait dengan fonetik:
1. Kegagapan
Contoh kasusnya ialah pada figur Aziz gagap, yaitu seorang artis yang berperan sebagai seseorang yang memiliki ketidaklancaraan berujar dikarenakan kegagapan atau lebih spesifiknya lagi pada ciri-ciri kegagapan yaitu pada pengulangan. Sebab, si Aziz gagap ini menyebutkan dalam suatu percakapan baik dalam suku kata, kata, frase, atau kalimat dengan keadaan mengulang secara berturut-turut bunyi-bunyi tertentu. Misalnya: Aku sayang kamu diucapkan A-a-aku s-s-sa-yang k-k-ka-kamu.
2. Kelumpuhan Saraf Otak
Contoh kasusnya ialah pada seseorang yang terganggu saraf otak yang ditandai dengan buruknya pengendalian otot, kekakuan, kelumpuhan dan gangguan fungsi saraf lainnya. Sebagai contoh seorang anak yang memiliki penyakit sesak napas tentunya akan menganggu proses penghasilan ujaran. Ketidaklancaran ini berkaitan dengan keadaan pernapasan yang tidak normal yang berdampak pada aliran udara yang diperlukan saat menghasilkan bunyi bahasa, kenyaringan dan kejelasan suara, dan kemampuan gerakan artikulator-artikulator pertuturan. (sumber: Muslich, Masnur. 2011. Fonologi Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara)
3. Afasia
Afasia merupakan sejenis penyakit yang disebabkan oleh kerusakan saraf otak, dengan itu akan melumpuhkan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi. Masalah afasia adalah berbeda dengan disleksia. Tanda penting pengidap afasia adalah kesulitan berkomunikasi secara suara, kesulitan memahami percakapan orang lain, dan kesulitan untuk membaca dan menulis. Afasia biasanya disebabkan oleh kerusakan pada pusat bahasa otak dan bisa disebabkan oleh stroke atau cedera fisik. (sumber: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/pathology/2281555-pengertian-afasia/)
Contoh kasusnya pada seseorang yang mengalami Afasia Broca akibat dari penyakit setroke yang dideritanya, hal itu akibat adanya penyumbatan pembuluh darah dan mengenai daerah broca. Pada saat mengalami Afasia Broca pasca stroke, pasien mengalami kesulitan dalam mengungkapkan ide-ide yang ada dalam pikirannya. Padahal sebelum mengalami stroke pasien adalah seorang guru disebuah dasar yang setiap harinya dituntut untuk selalu berbicara didepan murid-muridnya. Selain sebagai guru pasien juga sering menjadi master of ceremony di daerah sekitarnya. Jadi pasien mengalami kesulitan untuk melakukan semua kegiatan yang sering dijalaninya tersebut. (sumber: http://mario-setira.blogspot.com/2008/08/paper-apa-kasus-afasia-broca.html)
4. Disleksia
Contoh kasusnya ialah pada seorang anak usia enam tahun, anggap saja si A. Si A ini memiliki sikap dan cara berpikir yang berbeda. Si A ini memiliki sikap pelupa, tidak suka membaca, sulit mengeja, bahkan mengalami kesulitan saat memahami apa yang telah ia baca. Ternyata menurut guru yang mengamati sikap ini si A ini sulit untuk menghafal abjad, nama hari secara berurut, bahkan penulisan abjad tidak sesuai dengan pembentukkan yang selayaknya terkadang si A menulis huruf d sebagai huruf b, menulis huruf q sebagai huruf p atau si A sering menulisnya terbalik. Ini mengakibatkan si A tidak lancar dalam membaca, menurut si A ketika ia membuka buku dan melihat huruf yang ada di dalamnya campur-aduk, sehingga kata-kata yang ia lihat tidak jelas.Kasus inilah yang disebut dileksia. Dileksia itu sendiri adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis. (sumber: http://felinophobia.blogspot.com/2009/09/analisis-kasus-disleksia-reading.html)
POIN 2
Bahasa Indonesia berkerabat dengan bahasa-bahasa apa saja?
ASAL USUL AUSTRONESIA
Para penutur bahasa Austronesia proto atau purba dijangka berasal dari daerah yang sekarang disebut China bahagian selatan. Mereka sekitar 4000 tahun yang lalu bermigrasi ke pulau Taiwan dan dari sana lalu menyebar ke Filipina, Indonesia, kemudian ke Madagascar dekat benua Afrika dan ke seluruh lautan Pasifik.Bahasa Ma’anyan yang merupakan sebuah bahasa Dayak dan dipertuturkan di Borneo adalah bahasa yang paling dekat dengan bahasa Malagasi yang dipertuturkan di Madagascar, berdekatan dengan persisiran pantai timur Afrika.
KLASIFIKASI
Secara lazimnya, rumpun bahasa Austronesia dibahagi kepada beberapa kelompok. Dua kelompok utama ialah bahasa Taiwan dan bahasa Melayu-Polinesia. Kemudian rumpun bahasa Melayu-Polinesia dibahagi pula menjadi bahasa-bahasa Melayu-Polinesia Barat, Tengah dan Timur.Di bawah adalah salasilah pembahagian rumpun bahasa ini secara terperinci.
Austronesia
- Taiwanik
- bahasa Atayalik
- bahasa Tsouik
- bahasa Paiwanik
- bahasa Taiwanik Barat
- bahasa Taiwanik yang terpengaruh bahasa China
- bahasa Melayu-Polinesia
- bahasa Melayu-Polinesia Barat
- bahasa Borneo
- bahasa Filipina Utara
- bahasa Filipina Tengah
- bahasa Filipina Selatan
- bahasa Mindanao Selatan
- bahasa Sama-Bajau
- bahasa Sulawesi
- bahasa Sundik
- bahasa Melayu-Polinesia Tengah
- bahasa Bima-Sumba
- bahasa Maluku Tengah
- bahasa Maluku Tenggara
- bahasa Timor-Flores
- bahasa Melayu-Polinesia Timur
- bahasa Oseania
- bahasa Halmahera Selatan-Papua Barat-Laut
Sumber : http://lismanopiyanti.blogspot.com/2014/03/tugas-iv-fonologi-bahasa-indonesia-fkip.html#more
TUGAS V FONOLOGI BAHASA INDONESIA FKIP UIR
Bunyi-bunyi Pengiring beserta contohnya :
1.Bunyi ejektif,yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara glotis
ditutup sebelum dan sewaktu bunyi utama diucapkan,sehingga ketika glotis dibuka
terdengar bunyi global[V].
2.Bunyi
klik,yaitu bunyi sertaan yang
dihasilkan dengan cara lidah belakng menempel rapat pada velum sebelum dan
sewaktu bunyi utama diucapkan,sehingga ketika penempelan pada velum dilepas
terdengar bunyi [Kk]
3.Bunyi
aspriasi,yaitu bunyi sertaan yang
dihasilkan dengan cara arus udara yang keluar lewat mulut terlalu keras
sehingga terdengar bunyi[Kh].
Contoh: bunyi [p] pada awal kata bahasa
inggris trdengar sebagai bunyi [ph], sehingga ucapnnya menjadi
[pheis].
4.Bunyi
eksplosif(bunyi lepas),yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara arus
udara dilepaskan kembali setelah dihambat total.lawannya adalah bunyi
implosif(bunyi tak lepas)
5.Bunyi
retrofleksi,yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara ujung lidah ditarik
ke belakang[Kr].
Contoh: bunyi [k] pada kata
terdengar sebagai bunyi [kr], sehingga ucapannya menjadi [kretas]. Jadi, bunyi
[k] telah diretrofleksi.
6.Bunyi
labialisasi,yaitu bunyi sertaan yang di hasilkan dengan cara kedua bibir
dibulatkan dan disempitkan segera/ketika bunyi utama diucapkan.
Contoh: bunyi [t] pada kata
terdengar sebagai bunyi [tw] sehingga lafalnya [twjuan]. Jadi, bunyi [t]
dikatakan dilabialisasi.
7.
Bunyi palatalisasi,yaitu sertaan yang dihasilkan dengan cara lidah tengah
dinaikkan mendekati langit-langit keras(palatum) segera/ketika diucapkan
sehingga terdengar bunyi[Ky].
Contoh: bunyi [p] pada kata
terdengar sebagai bunyi [py] sehingga ucapannya menjadi [pyara]. Jadi, bunyi [p]
telah diplatisasi.
8.Bunyi
glotalisasi,yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara glotis ditutup
sesudah bunyi utama diucapkan sehingga terdengar bunyi[?].
Contoh: bunyi [a] pada kata
terdengar sebagai bunyi [a?], sehingga ucapannya menjadi [a?kan].
9.Bunyi
nasalisasi,yaitu bunyi sertaan yang dihasilkan dengan cara memberikan
kesempatan arus udara melalui rongga hidung sebelum atau sesaat artikulasi
bunyi utama, sehingga terdengar bunyi sertaan [m].
Contoh: Hal ini biasa terjadi pada konsonan
hambat bersuara, yaitu [b], [d], dan [g], sehingga menjadi [mb] [nd] [kg].
Sabtu, 22 Februari 2014
TUGAS FONOLOGI BAHASA INDONESIA FKIP UIR
Memahmi Tiga Istilah Langage, Langue dan La Parole
Langage
adalah sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan untuk berkomunikasi
dan berinteraksi secara verbal diantara sesama pemakai bahasa. Langage ini bersifat abstrak. [6] dan juga bersifat universal [7], sebab langage adalah
satu sistem lambang bunyi yang digunakan manusia pada umumnya, bukan
manusia pada suatu tempat atau masa tertentu. Dalam bahasa Indonesia langage bisa dipadankan dengan kata bahasa seperti terdapat dalam kalimat “ manusia mempunyai bahasa, binatang tidak”. Jadi, penggunaan istilah bahasa dalam kalimat tersebut, sebagai padanan kata langage, tidak mengacu pada salah satu bahasa tertentu, melainkan mengacu pada bahasa umumnya sebagai sarana komunikasi manusia.
Istilah kedua dari konsep de Saussure [8]tentang bahasa adalah langue, [9]
langue adalah sebuah sistem lambang bunyi yang digunakan oleh
sekelompok anggota masyarakat tertentu untuk berkomunikasi dan
berinteraksi dengan sesamanya. Langue mengacu pada satu sistem
lambang bunyi tertentu yang jika dipadankan dengan bahasa dalam bentuk
kalimat “Joni belajar bahasa Arab, sementara Taufik belajar bahasa
Sunda”. Sebagaimana langage, langue juga punya pola, keteraturan,
atau kaidah-kaidah yang dimiliki manusia, akan tetapi kaidah-kaidah itu
bersifat abstrak alias tidak nyata-nyata digunakan.
Jika istilah langage dan langue
bersifat abstrak, maka istilah yang ketiga dari konsep Saussure tentang
bahasa yaitu Parole itu bersifat konkret. Karena parole itu merupakan
pelaksanaan dari langue dalam bentuk ujaran/tuturan yang dilakukan oleh
anggota masyarakat di dalam berinteraksi atau berkomunikasi dengan
sesamanya. Dalam bahasa Indonesia bisa dipadankan dengan bahasa dalam kalimat “ Kalau Kiayi Abd Wafi pidato, bahasanya penuh dengan kata demikian”. Jadi parole itu bersifat nyata, dan dapat diamati secara empiris.
Langganan:
Postingan (Atom)